Skip to main content
RtiRtiTalk

[Internasional] Kolom Hsu Hui-yi: Pemuda ASEAN Membentuk Ulang Nilai Asia Baru di Tengah Gelombang Digital

bella@@ 央廣 新聞
bella@@ 央廣 新聞1 jam lalu
Pada tahun 1990-an, 'Nilai-nilai Asia', yang diadvokasi bersama oleh Singapura dan Malaysia, pernah menjadi perisai retoris yang kuat bagi negara-negara Asia Tenggara dalam menghadapi ekspor demokrasi Barat. Sistem nilai ini menekankan kepentingan kolektif di atas hak individu, ketertiban sosial di atas kebebasan berekspresi, dan menjadikan pembangunan ekonomi sebagai dasar inti pemerintahan. Namun, dengan adopsi globalisasi dan jaringan digital yang meluas, narasi tradisional yang mendominasi Asia Tenggara selama puluhan tahun ini menghadapi tantangan yang belum pernah terjadi sebelumnya. Generasi pribumi digital ASEAN, melalui subkultur internet dan koneksi lintas negara, mengalami benturan budaya dengan elit penguasa tradisional, yang mengarah pada kebangkitan politik yang membentuk kembali logika dasar geopolitik regional. Politik Meme dan Dampak Digital Subkultur di Generasi Muda Bagi generasi digital di Asia Tenggara, wahana partisipasi politik telah bergeser dari pidato jalanan tradisional dan surat kabar ke meme, video pendek, dan simbol budaya pop di platform media sosial. Elemen subkultur yang tampak lucu dan terdesentralisasi ini mengandung momentum politik dan sifat subversif yang kuat. 'Politik meme' secara signifikan menurunkan ambang batas partisipasi politik, memungkinkan kaum muda yang sebelumnya acuh tak acuh terhadap politik tradisional untuk segera berkumpul melalui humor internet bersama dan simbol populer. Lebih penting lagi, hal ini akan mendorong komunitas virtual seperti komunitas internet pemuda lintas negara, memungkinkan pemuda Asia Tenggara untuk membentuk aliansi masyarakat sipil transnasional dalam perjalanan mereka mengejar demokrasi, kesetaraan, dan menentang otoritarianisme, yang berbeda dari saluran resmi. Dividen Ekonomi dan Nilai-nilai Universal Berbenturan dengan Narasi Generasi Kontrak inti Nilai-nilai Asia tradisional adalah masyarakat menyerahkan sebagian hak politik sebagai imbalan atas negara yang menyediakan pertumbuhan ekonomi dan stabilitas sosial. Namun, bagi pemuda ASEAN yang lahir setelah Perang Dingin dan dibesarkan di era digital, kontrak ini semakin kabur. Masyarakat Asia Tenggara kontemporer menghadapi konflik narasi generasi yang parah. Pemimpin generasi tua berusaha mengkonsolidasikan kekuasaan melalui tingkat pertumbuhan PDB dan pembangunan infrastruktur; namun, ketika kaum muda menghadapi pengangguran kaum muda yang tinggi, kesenjangan kekayaan yang melebar, dan stagnasi mobilitas sosial, mereka tidak lagi secara membabi buta mempercayai janji 'pembangunan diutamakan'. Sebaliknya, dengan terhubung ke informasi global secara online, pengejaran mereka terhadap nilai-nilai universal (seperti kebebasan berbicara, kesetaraan gender, hak LGBTQ+, dll.) telah meningkat secara signifikan. Pembentukan ulang nilai dari bawah ke atas ini mau tidak mau mengarah pada konfrontasi langsung dengan tatanan pemerintahan tradisional kaum mapan di berbagai negara ASEAN. Perluasan Nasionalisme Digital dan Kedaulatan Internet Menghadapi tantangan budaya dan politik yang diprakarsai oleh generasi muda melalui alat digital, elit penguasa di negara-negara Asia Tenggara tidak tinggal diam tetapi dengan cepat melancarkan serangan balik dalam sistem. Pemerintah menyadari bahwa merebut kembali kendali narasi di ruang digital adalah tugas utama untuk menjaga stabilitas rezim. Dalam beberapa tahun terakhir, ada tren umum di negara-negara Asia Tenggara untuk memperkuat kedaulatan internet. Baik itu undang-undang 'POFMA' (Perlindungan dari Kebohongan dan Manipulasi Online) Singapura atau mandat Vietnam bagi perusahaan teknologi multinasional untuk melokalkan data, niat strategis di balik ini adalah untuk meminggirkan perbedaan pendapat online melalui alat hukum. Selain itu, pemerintah juga mulai memproduksi opini publik online dan nasionalisme digital, mengumpulkan emosi secara online atau menentang narasi hak asasi manusia dan demokrasi dari luar. Penyebaran otoritarianisme teknologi tinggi ini dapat menyebabkan ruang internet Asia Tenggara berevolusi dari utopia koneksi bebas menjadi parit digital tempat pemerintah dan masyarakat sipil terlibat dalam serangan dan pertahanan sengit. Keretakan budaya dan generasi ini memiliki implikasi mendalam bagi geopolitik di masa depan. Ketika kaum muda dengan nilai-nilai baru ini secara bertahap menjadi tulang punggung masyarakat di berbagai negara, dan bahkan memasuki lingkaran pengambilan keputusan, sikap negara-negara Asia Tenggara terhadap persaingan kekuatan besar AS-Tiongkok, persaingan sistemik, dan isu-isu hak asasi manusia regional tidak akan lagi dapat mempertahankan sikap realis dan acuh tak acuh murni di masa lalu. Memahami momentum politik yang tersembunyi di balik layar digital ini akan menjadi perspektif kunci yang sangat diperlukan untuk menilai arah kebijakan domestik dan luar negeri Asia Tenggara di masa depan. (Editor: Chen Wen-wei)

Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?

0 orang bereaksi

Komentar (0)

Belum ada komentar