Peristiwa terkini
Ada begitu banyak gambar di sini.

Chaowen21 hari laluDiedit
Lentera Terakhir
Pak Chen tua telah membuat lentera sepanjang hidupnya. Setiap malam, ia duduk di bengkel kecilnya di sudut Jalan Minsheng, dengan hati-hati membengkokkan rangka bambu dan membentangkan kertas beras di atasnya. Tangannya, yang keriput seperti kulit pohon kuno, bergerak dengan kesabaran yang seolah berasal dari era lain.
Tidak ada lagi yang membeli lentera. Festival telah berubah. Anak-anak lebih menyukai mainan plastik yang menyala dari pasar malam, dan kuil telah beralih ke lampu LED tiga tahun lalu. Namun Pak Chen terus membuatnya — satu setiap malam, menggantungnya di sepanjang langit-langit tokonya sampai seluruh ruangan bersinar seperti ladang bintang yang jatuh.
Suatu hari Selasa yang hujan, seorang gadis kecil berusia tidak lebih dari tujuh tahun masuk. Ia berdiri basah kuyup di ambang pintu, matanya bulat seperti bulan, menatap ke arah lentera.
"Apakah ini asli?" bisiknya.
Pak Chen tersenyum. "Seasli api yang ada di dalamnya."
Gadis itu menunjuk ke lentera merah kecil berbentuk ikan mas. "Bolehkah aku memilikinya?"
Ia meraih dan melepaskannya dengan hati-hati. "Apakah kau tahu cara menjaganya agar tetap menyala?"
Gadis itu menggelengkan kepalanya.
"Kau harus berjalan perlahan," katanya, meletakkan lentera itu di tangan gadis itu. "Jika kau terburu-buru, angin akan menemukan apinya. Tapi jika kau sabar, lentera ini akan menerangi jalanmu pulang."
Gadis itu mengangguk dengan serius, mendekap lentera itu seperti sesuatu yang hidup, dan melangkah kembali ke dalam hujan.
Pak Chen memperhatikannya menghilang di tikungan, cahaya kecil itu bergoyang dalam kegelapan seperti detak jantung. Ia kembali ke meja kerjanya, mengambil sebilah bambu baru, dan mulai bekerja lagi.
Di luar, hujan mereda. Dan di suatu tempat di sepanjang jalan, sebuah cahaya kecil terus bergerak maju.
Bagaimana perasaan Anda tentang artikel ini?
0 orang bereaksi